Kejutan di Layar Kaca: Pembaca Berita Ini Mendadak Dinobatkan Jadi Raja di Uganda!
KAMPALA - Seorang penyiar berita secara tak terduga ditunjuk menjadi raja berikutnya dari Kerajaan Tooro di Uganda. Momen tak terduga ini terjadi setelah raja sebelumnya, yang pernah dikenal sebagai “raja bocah”, meninggal dunia bulan lalu pada usia 34 tahun.
Artikel ini telah diterbitkan di halaman SINDOnews.com pada Senin, 14 September 2026 - 15:45 WIB oleh Muhaimin dengan judul "Bikin Heboh, Penyiar Berita Tiba-tiba Ditunjuk Jadi Raja di Uganda". Untuk selengkapnya kunjungi:
Komite pemilihan Kerajaan Tooro mengumumkan Edward Rukidi Kijanangoma sebagai putra mahkota setelah melalui proses pencarian dan seleksi. Kijanangoma merupakan sepupu mendiang raja. Dia bekerja sebagai penyiar berita sekaligus editor di lembaga penyiaran milik negara, Uganda Broadcasting Corporation.
Kijanangoma kemungkinan akan dinobatkan pekan ini untuk menggantikan Raja Oyo Nyimba Kabamba Iguru Rukidi IV, yang akan dimakamkan pada Sabtu. Pemakamannya diperkirakan dihadiri puluhan ribu pelayat di sebuah kota terpencil dekat perbatasan dengan Kongo. Raja Oyo meninggal karena kanker dalam usia 34 tahun dan belum menikah. Kepergiannya menyedihkan banyak orang yang telah menyaksikannya tumbuh sejak masih bayi hingga menjadi pemimpin yang dicintai rakyat kerajaan kuno tersebut. Kerajaan Tooro merupakan salah satu dari lima kerajaan tradisional yang diakui pemerintah Uganda. Meski demikian, kerajaan-kerajaan tersebut tidak memiliki kedaulatan atau kekuasaan politik formal. Presiden Uganda Yoweri Museveni sebelumnya menyatakan bahwa Oyo meninggalkan seorang ahli waris laki-laki yang lahir di luar pernikahan. Namun, komite Kerajaan Tooro memilih Kijanangoma setelah mempertimbangkan sejumlah kandidat.
Penunjukan Kijanangoma, yang dikenal sebagai penyiar yang sederhana dan dekat dengan masyarakat, kemungkinan bertujuan mengakomodasi kelompok tradisionalis yang menginginkan kesinambungan sekaligus mereka yang menolak kembali menempatkan seorang anak di atas takhta. Namun, keputusan tersebut juga berpotensi memicu kontroversi dan gugatan hukum apabila para pendukung Oyo merasa tidak dilibatkan atau dikesampingkan.
Penunjukan itu langsung ditolak oleh kerabat terdekat Oyo. “Kami benar-benar sangat kecewa,”** kata Ruth Komuntale, saudara perempuan Oyo, kepada stasiun televisi NBS yang dikutip AP, Senin (14/9/2026).
“Sejujurnya, bagi saya ini sangat dramatis, seperti upaya untuk menciptakan perpecahan dan kekacauan,” ujarnya. Komuntale mengatakan surat wasiat Oyo “dengan jelas menyatakan” bahwa sang raja meninggalkan seorang ahli waris takhta. Oyo dinobatkan pada 1995 ketika baru berusia 3 tahun, setelah ayahnya meninggal dunia. Saat itu, dia merupakan anak kecil yang penuh rasa ingin tahu dengan pakaian kerajaan berwarna-warni dan menjadi sosok yang dikagumi ratusan ribu rakyatnya.
Dalam upacara penobatannya, Oyo menjalani serangkaian ritual adat. Dia kemudian dibawa ke pemakaman kerajaan untuk menjalani ritual kedewasaan dengan melemparkan sembilan biji kopi ke makam ayahnya dan berhasil mengenainya.
Oyo langsung menyandang gelar tidak resmi sebagai raja termuda di dunia. Sosoknya bahkan memikat perhatian para pemimpin dunia yang bertemu dengannya dalam berbagai acara kenegaraan, termasuk mantan Presiden Afrika Selatan Nelson Mandela. Hingga berusia 18 tahun, Oyo berada di bawah bimbingan para wali kerajaan yang ditunjuk untuk menjalankan pemerintahan atas namanya. Almarhum mantan pemimpin Libya Muammar Gaddafi juga menjalin hubungan dekat dengan keluarga kerajaan Tooro, seolah-olah mereka merupakan bagian dari keluarga besarnya sendiri. Gaddafi beberapa kali mengunjungi Uganda dan selama bertahun-tahun memberikan dukungan kepada Oyo serta ibu suri sebelum meninggal pada Oktober 2011. Kerajaan-kerajaan tradisional Uganda pernah dilarang setelah negara itu merdeka dari pemerintahan kolonial Inggris. Presiden Uganda saat itu, yang menginginkan persatuan nasional, menghapus sistem kerajaan tersebut. Namun, kerajaan-kerajaan tradisional itu dipulihkan pada 1993. Meskipun tidak memiliki kewenangan politik dan secara hukum dilarang terlibat dalam politik partisan, para raja tradisional Uganda tetap memiliki pengaruh sebagai penjaga dan pelestari budaya suku masing-masing.
Artikel ini telah diterbitkan di halaman SINDOnews.com pada Senin, 14 September 2026 - 15:45 WIB oleh Muhaimin dengan judul "Bikin Heboh, Penyiar Berita Tiba-tiba Ditunjuk Jadi Raja di Uganda | Halaman 3".
Untuk selengkapnya kunjungi:
https://international.sindonews.com/read/1749711/46/bikin-heboh-penyiar-berita-tiba-tiba-ditunjuk-jadi-raja-di-uganda-1789373380/14#goog_rewarded
0 Comments